Harga Batu Bara Menguat, Lockdown China Jadi Tantangan Tahun Depan

Source: https://www.idxchannel.com/economics/harga-batu-bara-menguat-lockdown-china-jadi-tantangan-tahun-depan

 

IDXChannel - Harga batu bara makin membara. Pada perdagangan Rabu (30/11/2022), harga batu bara kontrak Desember 2022 di pasar ICE Newcastle tercatat USD387.4 per ton, menguat 2,22%

Sementara harga untuk kontrak Januari di pasar ICE Newcastle tercatat USD373,5 per ton. Harganya menguat 1,36%.

Dua tolok ukur harga batu bara pada komoditas berjangka adalah kontrak batubara ICE Rotterdam untuk pengiriman di Belanda dan kontrak ICE Newcastle untuk pengiriman di Australia.

Secara year to date (ytd), kenaikan harga batu bara mencapai 214,39%. Pada periode ini, batu bara diperdagangkan dengan harga terendah di level USD 120,4 per ton pada Maret dan mencapai angka tertinggi USD 434,15 per ton di akhir September tahun ini. (Lihat tabel di bawah ini.)

Penguatan tersebut juga kembali mendekatkan harga batu bara kembali ke level psikologis USD400 per ton.

Mengutip Barchart.com, harga batu bara kembali melonjak menyusul kembali meningkatnya permintaan menjelang puncak musim dingin di Eropa.

Di sisi lain, disebut juga ada persoalan pasokan di negara penghasil batu bara seperti Indonesia dan Australia. Ketidakseimbangan ini membuat harga emas hitam terdongkrak.

 

2022 Berkah Si Batu Hitam, Bagaimana Tahun Depan?

Beberapa waktu terakhir, harga batu bara terpantau telah turun dari rekor tertinggi di bulan September 2022. Meski demikian, dibanding level pra pandemi, harga emas hitam masih tetap pada level tinggi di sepanjang tahun ini.

Dengan harga minyak dan gas yang terus melambung dalam beberapa waktu terakhir, komoditas batu bara nampaknya mengikuti tren tersebut.

Sementara musim ini adalah musim puncak untuk peningkatan kebutuhan pemanas di belahan Bumi Utara yang akan memasuki musim dingin.

Selain itu, masalah pasokan gas alam dari Rusia akibat memanasnya perang dengan Ukraina telah menyebabkan permintaan batubara Eropa meningkat sehingga mendorong harga lebih tinggi.

Proyeksi Barchart juga menunjukkan, prospek batubara tetap bullish meskipun ada isu lingkungan yang menghantui komoditas ini. Batu bara telah menjadi sasaran bagi para pencinta lingkungan karena jejak karbonnya yang cukup tinggi.

Kecenderungan target energi terbarukan yang digaungkan oleh banyak produsen energi dan negara-negara dunia menyebabkan produksi batu bara sempat turun. Tetapi, secara mengejutkan permintaan batu bara tetap tinggi pada tahun 2022.

Didorong oleh peningkatan sentiment anti minyak dan gas Rusia serta masih lemahnya ketersediaan energi terbarukan, permintaan batu bara diproyeksikan akan terus meningkat hingga 2023 dan akan tetap mempertahankan harga tertinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Fitch Solutions, dalam perkiraan harga batu bara jangka panjang pada 8 Agustus lalu, merevisi perkiraan harga batu bara untuk tahun 2022 menjadi rata-rata USD320 per ton, dari perkiraan sebelumnya sebesar USD230.

Harga ini diperkirakan akan turun menjadi USD280 pada tahun 2023 dan USD250 pada tahun 2024.

Adapun prediksi riset Global Bank of America (BofA) pada 29 Agustus memperkirakan bahan bakar pembangkit listrik ini akan berada di kisaran harga rata-rata USD312 pada tahun 2022 dan USD300 pada tahun 2023.

Sementara ANZ Research memperkirakan harga batubara Newcastle naik menjadi USD400/ton pada Desember tahun ini dari USD375 pada September.

Dalam sebuah catatan pada 23 September, ANZ memperkirakan harga batu bara Newcastle dapat mencapai rata-rata USD353 pada tahun 2022, kemudian turun menjadi USD334 pada tahun 2023 dan USD135 pada tahun 2024.

Sementara proyeksi Trading Economics memperkirakan, batu bara termal diperdagangkan pada kisaran harga USD461 pada akhir kuartal ini, dan masih akan naik menjadi USD550 dalam waktu 12 bulan ke depan.

 

Waspada Gejolak di China

Kerusuhan di China akibat kebijakan lockdown Covid-19 menjadi sentimen ekonomi terkuat pekan ini. Kerusuhan tersebut cukup mempengaruhi bursa saham di China sekaligus nilai tukar mata uang Yuan.

Kebijakan zero Covid pemerintah China juga mendorong kinerja ekonomi negeri Panda terpuruk.

Sejumlah data ekonomi negeri Tirai Bambu menunjukkan pelemahan. Teranyar, data Indeks manajer pembelian manufaktur resmi atau manufacturing purchasing managers index (PMI) untuk bulan November pada Rabu, (30/11) mengalami perlambatan.

PMI negara Tirai Bambu turun menjadi 48,0 pada bulan ini. Angka ini meleset dari ekspektasi ekonom mencapai 49,0 dan tergelincir jauh di bawah bulan lalu sebesar 49,2.

Kondisi ini dikhawatirkan akan mempengaruhi pasar komoditas ke depan, termasuk untuk permintaan batu bara dari China. Mengingat negara tersebut merupakan produsen sekaligus konsumen terbesar emas hitam ini.

China sejauh ini merupakan produsen batu bara terkemuka dunia, dengan India di urutan kedua.

Batubara adalah bahan bakar fosil penting yang dibakar oleh Cina dan India untuk menghasilkan listrik yang menggerakkan negara-negara berpenduduk paling banyak di dunia.

China mendominasi produksi batu bara global, dan menyumbang hampir 47% dari seluruh produksi dunia pada tahun 2019.

Negeri Panda ini mengekstraksi hampir 3,7 miliar ton emas hitam sepanjang tahun tersebut dan mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 4%. Di tahun 2021, jumlah batu bara yang dihasilkan China mencapai 3,94 miliar ton.

China dan India mendominasi produksi dan konsumsi batu bara dan merupakan dua dari tiga negara pengimpor batu bara teratas pada tahun 2021.

Negara ini juga merupakan konsumen batu bara terbesar dunia, mengonsumsi sekitar 53% dari total batu bara global. China mengkonsumsi 86,17 exajoules energi dari batu bara untuk kebutuhan domestik.

Ketidakpastian pasar komoditas akibat gejolak ini bisa jadi berpengaruh buat Indonesia kedepannya. Mengingat RI juga masuk ke dalam top five produsen batu bara global.

Indonesia juga masih ketiban ‘durian runtuh’ dari komoditas ini di bulan Oktober kemarin. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan total nilai ekspor Indonesia pada periode Januari hingga Oktober 2022 mencapai USD244,14 miliar atau setara Rp3.799,17 triliun.

Salah satu faktor yang menopang peningkatan ini adalah komoditas bahan bakar mineral seperti batu bara. (ADF)

Related Regular News: