Kinerja Bukit Asam (PTBA) Bakal Tersulut Harga Batu Bara Kalori Rendah

Kinerja Bukit Asam (PTBA) Bakal Tersulut Harga Batu Bara Kalori Rendah

Jakarta,APBI-ICMA : Bisnis.com   25 Maret 2019  memberitakan  bahwa  geliat harga batu bara kalori rendah yang disebut telah menyentuh level US$40 per ton diyakini PT Bukit Asam Tbk. juga akan turut mengerek kinerja keuangan perseroan. 

Dalam laporan Bisnis.com baru-baru ini, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan bahwa pasar batu bara kalori rendah mulai bergeliat. Kondisi itu sejalan dengan impor China yang mulai longgar untuk batu bara dalam kategori tersebut.

Selain itu, APBI menilai pemangkasan kuota produksi yang signifikan dari Indonesia menjadi sentimen positif bagi harga komoditas itu. Pasalnya, Indonesia menyandang status sebagai eksportir batu bara thermal terbesar di dunia.

APBI mengungkapkan harga batu bara dengan kalori 4.200 kcal/kg menyentuh level US$40 per ton. Beberapa waktu lalu, harga komoditas itu sempat berada di level US$30 per ton.

Kabar menggeliatnya harga batu bara kalori rendah turut membawa angin segar bagi produsen komoditas itu di dalam negeri termasuk, PT Bukit Asam Tbk. Emiten anggota Holding BUMN Industri Pertambangan itu optimistis geliat harga akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan.

“Kenaikan harga batu bara kalori rendah ini tentunya juga akan mempengaruhi batu bara kalori medium dan high yang menjadi target pasar Bukit Asam,” ujar Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Kendati demikian, Suherman menjelaskan bahwa emiten berkode saham PTBA tidak serta merta dapat meningkatkan atau memacu produksi. Pasalnya, hal itu berkaitan dengan beberapa handicap atau rintangan seperti angkutan, ketersediaan peralatan, dan faktor lainnya.

Namun, dia menyebut PTBA akan berproduksi sesuai rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang telah disetujui. Pihaknya akan mengoptimalkan kualitas batu bara  yang dapat memberikan margin optimal.

Dalam paparannya, Manajemen PTBA telah memasang sejumlah target untuk periode 2019. Dari sisi produksi, perseroan membidik 27,26 juta ton sepanjang 2019 atau tumbuh 3% secara tahunan.

Dari sisi penjualan, PTBA mengincar volume 28,38 juta ton atau tumbuh 15% secara tahunan. Perinciannya, penjualan batu bara domestik 13,67 juta ton dan penjualan ekspor 14,71 juta ton.

Adapun, target penjualan tersebut ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium to high calorie ke pasar premium sebesar 3 juta ton.

Sementara itu, perseroan menganggarkan investasi Rp 6,47 triliun. Jumlah itu akan digunakan Rp 1,13 triliun untuk investasi rutin dan sisanya Rp 5,35 triliun untuk investasi pengembangan.

Sebagai gambaran, proyek pengembangan tengah dikerjakan PTBA yakni Proyek Gasifikasi atau Penghiliran Tambang Peranap, Proyek Gasifikasi Tambang Tanjung Enim, PLTU Mulut Tambang Sumsel 8, PLTU Feni Halmahera Timur, dan proyek angkutan batu bara.

Seperti diketahui, PTBA mengantongi pendapatan Rp 21,16 triliun. Realisasi itu naik 8,71% dari Rp 19,47 triliun  pada 2017.

Kendati demikian, beban pokok pendapatan perseroan tercatat naik lebih tinggi 15,11% secara tahunan pada 2018. Jumlah yang dikeluarkan naik dari Rp10,96 triliun pada 2017 menjadi Rp 12,62 triliun.

Dari situ, laba kotor PTBA naik tipis 0,46% secara tahunan. Tercatat, terjadi pertumbuhan dari Rp 8,50 triliun pada 2017 menjadi Rp 8,54 triliun. Dengan demikian, PTBA mengantongi laba bersih Rp 5,02 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik 12,23% dari Rp 4,47 triliun pada 2017.

PROSPEK SAHAM

Di pasar modal, Bloomberg mencatat pergerakan saham PTBA menguat 60 poin atau 1,49% ke level Rp 4.100 pada penutupan perdagangan, Jumat (22/3/2019). Akan tetapi, untuk periode berjalan 2019, pergerakan tercatat mengalami koreksi 4,65%. Adapun, pada perdagangan hari ini, Senin (25/3/2019) saham dibuka melemah 30 poin atau 0,73% ke level Rp4.070 per saham.

Saham PTBA tercatat diperdagangkan dengan price earning ratio (PER) 9,40 kali. Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp47,23 triliun.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan masih mempertahankan proyeksi pendapatan PTBA Rp24,6 triliun pada 2019 dan Rp27,8 triliun pada 2020. Adapun, proyeksi laba kotor berada di level Rp11,3 triliun pada 2019 dan Rp12,5 triliun pada 2020.

“Kami menjaga proyeksi laba bersih setahun penuh di level Rp6,1 triliun pada 2019 [atau tumbuh 22,3% secara tahunan],” tulisnya dalam riset.

Sejalan dengan masih dipertahankannya estimasi pendapatan dan laba bersih, Andy juga menjaga target harga saham PTBA di level Rp 5.520. Selain itu, pihaknya mengulangi rekomendasi beli.

Dia menilai keunggulan kompetitif dari PTBA yakni colorific value (CV) batu bara milik perseroan cocok dengan pembangkit listrik tenaga panas PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Sementara itu, terlihat adanya risiko penurunan jangka pendek sebagai dampak dari harga batu bara global yang lebih rendah serta perubahan regulasi.

Di lain pihak, dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg,  analis Kresna Sekuritas  Robertus Yanuar Hardy mengharapkan laba bersih perseroan akan mencapai Rp6 triliun pada 2019. Hal itu sejalan dengan ekspektasi peningkatan volume penjualan hingga 28 juta ton tahun ini.

Dia juga menyoroti kerja sama sinergi antara PTBA dengan Pertamina untuk harga bahan bakar minyak. Langkah itu diharapkan akan mengerek profitabilitas perseroan.

Robertus masih memberikan rekomendasi beli untuk saham PTBA. Target harga jangka panjang berada di level Rp5.000 per saham.

 

Sumber :

https://market.bisnis.com/read/20190325/192/903873/kinerja-bukit-asam-ptba-bakal-tersulut-harga-batu-bara-kalori-rendah

 

Related Regular News: