Transfer Kuota DMO membuat kinerja keuangan PTBA tetap bertumbuh tahun ini

Sumber :  https://investor.id/market-and-corporate/bukit-asam-berharap-dari-transfer-kuota-dmo

Investor.id  18 September 2019  memberitakan bahwa  transfer kuota kewajiban suplai domestic (domestic market obligation/DMO) batu bara berpotensi membuat kinerja keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) tetap bertumbuh tahun ini. Sedangkan diversifikasi bisnis ke pembangkit listrik akan menjadi penopang kenaikan keuntungan dalam jangka panjang. Kedua faktor tersebut mendorong sejumlah analis untuk tetap mempertahankan kinerja keuangan perseroan tahun ini, meskipun realisasi kinerja keuangan Bukit Asam sepanjang semester I-2019 di bawah target.

Faktor tersebut juga mendorong beberapa analis untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA. Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan mengatakan, Bukit Asam memiliki berpeluang untuk tetap dapat meraih kinerja keuangan sesuai dengan perkiraan. Hal ini didukung atas transfer kuota kewajiban suplai domestik (domestic market obligation/ DMO).

“Didasarkan petunjuk direksi perseroan bahwa transfer kuota DMO telah dimulai sejak awal semester II tahun ini, dibandingkan dengan tahun lalu dimulai pada kuartal IV-2018,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini. Menurut dia, transfer kuota DMO batu bara diperkirakan memberikan tambahan pendapatan bagi perseroan tahun ini. Penjualan tersebut juga berpotensi menurunkan stripping ratio perseroan dan akhirnya berimbas terhadap peningkatan keuntungan tahun ini.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk memper tahankan target kinerja keuangan perseroan tahun 2019, meskipun realisasi semester I-2019 di bawah target. Pendapatan diproyeksikan naik menjadi Rp 23,16 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak Rp 21,16 triliun. Laba bersih perseroan juga diharapkan meningkat menjadi Rp 5,20 triliun sampai akhir tahun 2019, dibandingkan pencapaian tahun 2018 mencapai Rp 5,02 triliun. Hal tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 4.160.Target ini mengimplikasikan perkiraan PE sekitar 11,5 kali atau sama dengan rata-rata dalam 10 tahun terakhir.


Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri memberikan pandangan positif terhadap peningkatan volume angkut kereta batu bara dari Tanjung Enim ke Kertapati. Tahun ini, volume angkut kereta api batu bara tersebut diperkirakan 9,5% menjadi 25,3 juta ton atau sebanding dengan perkiraan kenaikan volume produksi sekitar 3,4% menjadi 27,3 juta ton tahun ini.

“Dengan tren peningkatan daya kut kereta api batu bara dengan target menjadi 30 juta ton pada 2020, kami memperkirakan volume produksi perseroan akan bertumbuh ke depan. Hal ini akan berimbas positif terhadap bisnis perseroan dalam jangkaa panjang,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini. Pihaknya juga memberikan pandangan positif atas diversifikasi bisnis yang dilaksanakan perseroan. Menurut dia, diversifikasi bisnis akan mendukung pertumbuhan keuntungan ke depan. Saat ini, perseroan sedang membangun pembangkit listrik Sumsel 8 dengan kapasitas 6X620 mega watt (MW).

Terbukanya peluang pertumbuhan dalam jangka panjang didukung atas diversifikasi bisnis ke pembangkit listrik tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 4.400. Targe tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 9,9 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih perseroan tahun ini sekitar Rp 4,83 triliun, dibandingkan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 5,02 triliun. Pendapatan diharapkan naik dari Rp 21,16 triliun menjadi Rp 22,43 triliun.

Tidak Sesuai Ekspektasi

Area penambangan batu bara PT Bukit Asam Tbk. Andy mengatakan, realsasi laba bersih Bukit Asam semester I-2019 di bawah perkiraan, meskipun pendapatan masih menunjukkan peningkatan. Penurunan keuntungan dipengaruhi atas penurunan rata-rata harga jual batu bara perseroan, seiring dengan merosotnya harga jual di pasar global. “Rata-rata harga jual batu bara perseroan turun sekitar 6,8% menjadi Rp 778.800 per ton, sehingga kenaikan volume penjualan batu bara perseroan sekitar 9,8% menjadi 13,4 juta ton belum mampu mengimbangi penurunan harga jual. Penurunan juga diperparah atas peningkatan stripping ratio dan beban lainnya,” terangnya.

Perseroan membukukan penurunan laba bersih sebesar 24,4% dari Rp 2,65 triliun menjadi Rp 2 triliun. Angka tersebut merefleksikan sekitar 38,6% dari total target laba bersih Bukit Asam tahun ini yang diperkirakan Mirae Asset Sekuritas. Sedangkan pendapatan perseroan semester I-2019 naik tipis dari Rp 10,49 triliun menjadi Rp 10,61 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 45,8% dari target tahun ini. Pandangan senada diungkapkan Stefanus. Bukit Asam Menurut dia, penurunan laba bersih Bukit Asam dipengaruhi sejumlah faktor, seperti peningkatan biaya operasional dan peningkatan beban bunga.

Kenaikan belanja operasi mengakibatkan margin oprasional turun menjadi 22,2% pada kuartal II-2019. Dia menambahkan, penurunan juga dipengaruhi atas pelemahan rata-rata harga jual batu bara di pasar global. Pelemahan juga dipengaruhi atas kenaikan stripping ratio perseroan dari 4,3 kali pada semester I-2018 menjadi 4,6 kali pada semester I-2019. “Hal ini membuat perolehan laba bersih tersebut di bawah perkiraan kami atau setara dengan 42% dari target tahun ini,” terangnya. Tahun ini, Bukit Asam menargetkan produksi batubara 27,26 juta ton atau meningkat 3% dibandingkan 2018 yang mencapai 26,4 juta ton. Sedangkan penjualan batubara ditargetkan 28,4 juta ton atau meningkat 15% dibandingkan 2018 yang mencapai 24,7 juta ton.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman mengatakan, perseroan sedang memproses pembangunan dua proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di kawasan Muara Enim dan Halmahera Timur. Kedua proyek tersebut menelan investasi sebesar US$ 2,03 miliar. PLTU pertama yang sedang dibangun adalah PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di Muara Enim.

 PLTU ini dibangun oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) yang merupakan konsorsium Bukit Asam dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Proyek ini menelan investasi sebesar US$ 1,68 miliar yang didanai oleh Exim Bank of China. Konstruksi PLTU ini telah dimulai sejak Juni 2018 yang memerlukan waktu 42 bulan untuk Unit I dan 45 bulan untuk Unit II. Commercial operation date (COD) ditargetkan pada 2021 untuk Unit I dan untuk unit II pada 2022.
 

Related Regular News: