Winter is Coming! Siap-siap Harga Batu Bara Melesat

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20191117141355-17-115833/winter-is-coming-siap-siap-harga-batu-bara-melesat

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ditutup naik pada penghujung pekan karena musim dingin di Eropa yang akan mendongkrak kebutuhan energi listrik yang digunakan sebagai pemanas ruangan maupun air. Musim dingin tersebut terjadi pada akhir tahun hingga Februari tahun depan. Harga batu bara ICE Newcastle kontrak Februari ditutup menguat 0,98% ke level US$ 71,4/metrik ton pada perdagangan hari Jumat (15/11/2019). Selama sepekan harga batu bara global tersebut telah naik 3,4%, dan dalam sebulan naik.

Sebagai bahan bakar substitusi, harga gas saat ini masih dianggap relatif mahal dan memberikan margin keuntungan yang kecil ketimbang harga batu bara. Hal ini cenderung menguntungkan batu bara karena harganya lebih terjangkau. Namun, perlu juga diperhatikan penurunan angka impor batu bara yang terjadi di beberapa negara. Sejumlah analis memprediksi impor batu bara yang dilakukan China tahun ini lebih dari 300 juta ton. Artinya dalam dua bulan terakhir impor batu bara China berkisar 15 juta ton.

Yang mana angka tersebut masih jauh dari impor batu bara bulan-bulan sebelumnya yang mencapai lebih dari 20 juta ton. Tak hanya China, impor batu bara India juga mengalami penurunan. Mengutip data Refinitiv, impor batu bara India pada bulan Oktober turun menjadi 14,7 juta ton. Impor batu bara turun 16,9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Harga batu bara dalam jangka pendek sedang dalam tren kenaikan (uptrend), hal ini tercermin dari posisinya yang sedang bergerak di atas rata-rata harganya dalam sepuluh hari terakhir (moving average/MA10).

Sepanjang minggu depan, ada potensi harga akan cenderung menguat mengingat harganya belum menyentuh titik jenuh belinya (overbought) menurut indikator bersifat momentum yakni Relative Strength Index (RSI). Sedangkan level penghalang koreksi harga terdekatnya (resistance level) berada di harga US$ 73/ton. Jika tertembus, resistance level harga selanjutnya berada di US$ 76/ton. Adapun level penahan koreksinya berada di USD 69,5/ton.

Related Regular News: