APBI Bahu Membahu Dengan Pemerintah Untuk Mengamankan Pasar Tiongkok

Editorial by Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif  APBI-ICMA (19/11/2019)

Tiongkok masih menjadi “game changer” pasar batubara global paling tidak hingga 1 atau 2 dekade kedepan. Negeri Tirai Bambu tersebut masih menguasai impor batubara global atau sekitar 25 persen dari “global sea borne coal market”. Meski kuota impor RRT mengalami penurunan sejak 2017 namun praktis pasar RRT masih menjadi pasar yang paling diincar oleh eksportir batubara dunia termasuk Indonesia sebagai eksportir terbesar. Hal itulah yang mendorong APBI secara aktif dan intensif melakukan berbagai upaya untuk mengamankan pasar Tiongkok dengan membangun kerjasama dengan industri pertambangan batubara setempat dengan dukungan dari pemerintah Republik Indonesia.

Menurut data di Kementerian Perdagangan, RI mengekspor sekitar 125 juta M/T batubara ke Tiongkok di 2018, yang mana jumlah tersebut sekitar 26% dari total ekspor Indonesia. Di sisi lain, impor batubara dari Indonesia mencakup sekitar lebih dari 40% dari total impor RRT di 2018 yaitu 250 juta M/T. Kualitas batubara Indonesia yang umumnya “low ash” dan “low Sulphur” dengan kalori rata-rata <4200 GAR/Kcal, sangat diminati oleh importir dari Tiongkok yang mana batubara dari Indonesia digunakan sebagai “blending”.

Kondisi ini yang mendorong APBI sejak akhir tahun 2018 aktif untuk melakukan upaya “diplomasi” untuk mendorong kerjasama dengan importir Tiongkok. APBI ikut serta dalam beberapa kegiatan, bekerjasama dengan asosiasi importir batubara setempat yang tergabung dalam China Coal Trading & Distribution Association (CCTDA) ikut dalam acara “China Coal Import Conference” di Qinhuangdao di Desember 2018, kemudian “Global Coal Seaborne Conference” di Shanghai yang diselenggarakan oleh China National Coal Association (CNCA) di April 2019.

Kemudian kerjasama APBI dengan CNCA diformalisasikan dalam bentuk memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani oleh kedua asosiasi tersebut di Jakarta 24 Mei 2019 yang lalu. Pada saat itu Ketua APBI Pandu Sjahrir menandatangani MoU dengan mitra dari CNCA yang difasilitasi oleh pihak KBRI di Beijing yang dalam hal ini diwakili oleh Wakil Dubes (Deputy Chief of Mission) ibu Lisnawati. Inisiatif KBRI Beijing diawali oleh kunjungan Dubes RI untuk PRC Bapak Djohari Oratmangun ke kantor APBI di Nopember 2018.

Selain itu KBRI, Kementerian Perdagangan juga turut berperan dalam mendorong kerjasama antara APBI dan CNCA. Kerjasama kedua asosiasi tersebut juga dilaporkan oleh APBI ke Kementerian ESDM sebagai instansi Pembina dari sektor industri pertambangan mineral dan batubara. Semoga kerjasama APBI dengan CNCA dapat menjadi katalisator penguatan hubungan kerjasama yang lebih baik dari kedua negara di sektor pertambangan batubara, dimana Indonesia membutuhkan investasi untuk pengembangan “clean coal technology” dan “coal value added” sedangkan Tiongkok membutuhkan jaminan pasokan dari Indonesia.  

 

Related Regular News: