Dampak Pelemahan Rupiah terhadap United Tractors

Sumber : https://investor.id/market-and-corporate/dampak-pelemahan-rupiah-terhadap-united-tractors

 

Meski bisnis pertambangan batu bara menghadapi risiko tinggi akibat pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap penurunan permintaan alat berat Komatsu dan penurunan produksi batu bara, United Tractors diperkirakan tetap mencetak keuntungan yang baik,” tulis analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini.

Stefanus menegaskan, biaya pembelian bahan bakar menyumbang sebesar 20-25% terhadap total biaya penambangan yang dikeluarkan United Tractors, sehingga penurunan drastis harga minyak bisa memangkas beban pokok penjualan perseroan, khususnya bisnis kontraktor batu bara tahun ini. Sedangakan setiap pelemahan rupiah terhadap dolar AS sebesar 10%, maka laba bersih perseroan akan meningkat sekitar 9,8%. “Kami sebelumnya mengasumsikan nilai tukar berada di Rp 14.000 terhadap target kinerja keuangan United Tractors tahun ini,” jelas dia.

Berbagai kondisi tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi target kinerja operasional dan keuangan United Tractors tahun 2020 hingga 2021. Danareksa merevisi naik target produksi batu bara yang dikerjakan oleh United Tractors dari 128 juta ton menjadi 131 juta ton, sedangkan pengupasan tanah (overburden removal/OB) dinaikkan dari 898 juta bcm menjadi 920 juta bcm. Sedangkan penjualan batu bara United Tractors direvisi naik dari 9,2 juta ton menjadi 9,3 juta ton. Volume penjualan emas direvisi turun dari 400 ribu oz menjadi 360 ribu oz, dengan rata-rata harga jual diproyeksikan mencapai US$ 1.200 per oz. Revisi naik target kinerja operasional mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target pendapatan tahun ini dari Rp 80,56 triliun menjadi Rp 81,46 triliun. Sedangkan perkiraan EBITDA direvisi turun dari Rp 21,67 triliun menjadi Rp 21,18 triliun tahun ini. Begitu juga dengan perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 10,81 triliun menjadi Rp 10,6 triliun. Tantangan dan peluang tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga direvisi turun dari Rp 28.000 menjadi Rp 23.000.

Pandangan senada juga diungkapkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A Fauni dan Hariyanto Wijaya. Menurut mereka, pelemahan nilai tukar rupiah akan mendongkrak margin keuntungan kotor perseroan tahun ini, apalagi sebesar 70% pendapatan perseroan berada dalam mata uang uang dolar AS. Sedangkan beban pokok penjualan dalam bentuk mata uang dolar AS hanya mencapai 45% dari total beban pokok penjualan. “Mata uang rupiah telah naik dari level Rp 14.000 menjadi Rp 16.000 yang diharapkan berimbas terhadap peningkatan margin keuntungan perseroan dan berimbas terhadap peningkatan keuntungan tahun ini,” tulis Emma dan Hariyanto dalam risetnya.

Terkait bisnis kontraktor penambangan batu bara, kinerja United Tractors diproyeksi cenderung melemah dengan perkiraan penurunan overburden removal dan produksi batu bara masing-masing 3% tahun ini. Sedangkan penjualan batu bara perseroan tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 9 juta ton dibandingkan pencapaian tahun lalu sebanyak 8,5 juta ton. Hingga Februari 2019, perseroan membukukan penurunan volume penjualan alat berat Komatsu mencapai 44,2% menjadi 467 unit. Overburden removal mengalami penurunan sebesar 8,5% menjadi 138,3 juta bcm. Produksi batu bara justru tumbuh sekitar 18,1% menjadi 18,1 juta ton hingga Februari 2020. Sedangkan penjualan batu bara perseroan menunjukkan peningkatan sebesar 13,6% menjadi 1,87 juta ton hingga Februari 2020. Terkait bisnis pertambangan emas, United Tractors kemungkinan mencatat volume penjualan yang mendatar menjadi 65 ribu oz hingga Februari 2020. “Kami memperkirakan voume penjualan emas perseroan akan turun menjadi 370 ribu oz tahun ini, dibandingkan pencapaian tahun lalu mencapai 411 ribu oz,” ungkap Emma dan Hariyanto. Berdasarkan kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas menaikkan rekomendasi saham Dampak Pelemahan Rupiah terhadap United Tractors UNTR menjadi beli dengan target harga Rp 20.000. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitar 5,5 kali.

Target harga tersebut juga menggambarkan kemampuan perseroan untuk memonetisasi keuntungan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Target harga tersebut juga mempertimbangkan penurunan laba bersih perseroan menjadi Rp 10,44 triliun tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 11,32 triliun. Penjualan perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 84,43 triliun menjadi Rp 81,15 triliun. Sebelumnya, Investor Relations United Tractors Ari Setiawan mengatakan, United Tractors menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 450 juta tahun ini yang akan digunakan untuk ekspansi usaha. Dia mengatakan, dana belanja modal tersebut akan dibagi menjadi beberapa porsi, sebanyak US$ 300 juta akan digunakan untuk Pama Group dan US$ 100 juta akan dimanfaatkan untuk tambang emas Martabe. Sisanya akan digunakan untuk pembelian mesin konstruksi dan Acset.

Sedangkan penjualan alat berat tahun 2020 ditargetkan mencapai 2.900 unit.

Related Regular News: