Kuartal I/2020, Kinerja Emiten Batu Bara Tak Lagi Membara

Sumber : https://market.bisnis.com/read/20200602/192/1247170/kuartal-i2020-kinerja-emiten-batu-bara-tak-lagi-membara

 

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari 12 emiten batu bara, hanya dua emiten yang berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan pada kuartal I/2020. Sementara itu, dari sisi bottom line hanya tiga emiten yang membukukan kenaikan laba bersih dalam periode tiga bulan pertama tahun ini.

 

Mayoritas emiten pertambangan batu bara kompak mencetak penyusutan laba bersih pada kuartal I/2020. Sejumlah emiten pun menyiapkan strategi untuk menghadapi sisa tahun 2020 yang tampaknya kembali menjadi tahun yang berat bagi emiten batu bara.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari 12 emiten batu bara, hanya dua emiten yang berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan pada kuartal I/2020. Sementara itu, dari sisi bottom line hanya tiga emiten yang membukukan kenaikan laba bersih dalam periode tiga bulan pertama tahun ini.

Bahkan, terdapat dua emiten yang justru berbalik rugi dibandingkan dengan kuartal I/2019, yaitu PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang mencatat kerugian sebesar US$35,1 juta, dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) yang merugi US$21 juta pada kuartal I/2020.

Pelemahan harga batu bara global masih menjadi faktor utama penekan kinerja emiten komoditas emas hitam ini. Untuk diketahui, pada kuartal I/2020 harga batu bara Newcastle telah terkoreksi 2,64 persen didorong sentimen lockdown di beberapa negara untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Wakil Direktur Utama dan CEO Grup Indika Energy Azis Armand mengatakan, kinerja perseroan pada kuartal I/2020 terimbas oleh pandemi Covid-19. Average Selling Price (ASP) yang lebih rendah menyebabkan penurunan pendapatan perseroan menjadi US$641,5 juta, dan kinerja bottom line yang berbalik merugi.

Kendati demikian, Azis menegaskan saat ini kondisi perseroan masih cukup baik dan akan berupaya untuk mempertahankan posisi keuangannya yang masih sehat. Tercatat, posisi kas dan setara kas perseroan hingga akhir 31 Maret 2020 adalah sebesar US$728,2 juta.

“Di tengah kondisi perekonomian dan industri yang menantang, prioritas kami adalah menjaga posisi kas dan optimalisasi belanja modal,” ujar Azis dalam keterangan resminya, dikutip Senin (1/6/2020)

Selain itu, untuk memperbaiki kinerjanya perseroan juga masih akan fokus untuk mendiversifikasi portofolio bisnisnya. Hingga 5 Mei 2020, total kepemilikan Perseroan secara langsung dan tidak langsung di Nusantara Resources Limited (Nusantara) sebesar 23,2 persen.

Adapun, Nusantara merupakan induk dari PT Masmindo Dwi Area yang memegang konsesi pertambangan emas proyek Awak Mas di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Direktur Hubungan Investor PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Yulius Gozali menjelaskan, untuk menghadapi tantangan lebih lanjut akibat kondisi makro yang telah menekan kinerjanya pada kuartal I/2020, perseroan akan menerapkan pengeluaran kas secara disiplin.

Hal itu dilakukan dengan pemotongan biaya di setiap departemen dan optimasi biaya lebih jauh untuk menghadapi situasi yang tidak pasti.

Yulius juga mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 dan pembatasan akses beberapa negara tujuan ekspor, perseroan akan tetap mempertahankan pasar yang ada khususnya di Asia sembari menjajaki pasar baru yang masih tumbuh seperti Vietnam, Bangladesh, Myanmar, dan pasar domestik.

Namun, emiten berkode saham ITMG itu mengaku belum ada perubahan rencana bisnis yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini.

“Saat ini, target volume penjualan, target volume produksi, dan capex tidak berubah,” ujar Yulius kepada Bisnis.

Untuk diketahui, ITMG menargetkan penjualan 2020 berada di kisaran 22,4 juta hingga 23,5 juta ton, volume produksi di kisaran 19 juta hingga 20,1 juta ton, dan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) 2020 sebesar US$49,9 juta.

 

PEMANGKASAN TARGET

Kendati demikian, hal itu berbeda dengan emiten tambang batu bara berkapitalisasi terjumbo, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), yang telah memangkas target pendapatan tahun ini menjadi hanya sebesar US$1,2 miliar dari target yang telah ditetapkan sebelumnya di kisaran US$1,4 miliar hingga US$1,6 miliar.

EBITDA yang diproyeksi berada di kisaran US$320 juta hingga US$350 juta pada tahun ini pun dipangkas menjadi di kisaran US$150 juta hingga US$180 juta.

Manajemen Bayan Resources mengatakan bahwa revisi panduan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kinerja kuartal I/2020 perseroan dan kondisi pasar saat ini.

“Hal itu pun sejalan dengan Tambang Tabang yang menghentikan operasional penambangannya mulai 25 Maret hingga 14 Mei 2020 karena masalah keamanan terkait Covid-19,” tulis Manajemen Bayan Resources dalam laporannya.

Adapun, ASP batu bara BYAN diperkirakan turun menjadi di kisaran US$39 hingga US$40 per ton berdasarkan harga referensi patokan newcastle yang rata-ratanya juga turun menjadi US$57,8 per ton pada 2020.

Padahal, cash cost production dinaikkan menjadi US$34-US$35 per ton dari sebelumnya di kisaran US$30 hingga US$32 per ton dengan mempertimbangkan volume penjualan yang rendah, biaya tambahan untuk posisi standby tambang, dan posisi bahan bakar tetap.

Selain itu, Direktur dan Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk. Dileep Srivastava juga telah merevisi target volume penjualan 2020 menjadi 85 juta - 90 juta ton, daripada sebelumnya sekitar 87 juta ton.

“Pada kuartal II/2020 sejauh ini produksi masih normal dan kami akan terus memperhatikan dengan seksama kondisi pasar saat ini. Efek pandemi terus dialami dan mempengaruhi harga dan permintaan di beberapa pasar kami,” ujar Dileep kepada Bisnis, Senin (1/6/2020).

Emiten berkode saham BUMI itu merevisi proyeksi harga jual batu baranya di kisaran US$44-US$46 per ton dan cash cost produstion diubah menjadi US$32-US$34 per ton.

Adapun, pada sisa tahun ini Dileep mengatakan bahwa perseroan akan lebih banyak memproduksi batu bara berkalori tinggi dan mengambil keuntungan dari lemahnya harga minyak, mengingat sebesar 25 persen dari biaya produksi BUMI terkait minyak.

Perseroan juga akan mendorong anak usaha, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BMRS), untuk mendiversifikasi pendapatan dari batu bara setelah keberhasilan dari percobaan produksi emas di Palu dan dimulainya produksi secara komersial untuk komoditas seng di Dairi pada tahun depan.

Related Regular News: