APBI-ICMA and Argus Webinar: Market Outlook, Energy Transition, and the Future of Coal

Kolaborasi APBI-ICMA bersama Argus Media Singapore

Webinar: Market Outlook, Energy Transition, and the Future of Coal

Ditengah upaya pemerintah dan lembaga keuangan di sejumlah negara untuk mengurangi bahan bakar fosil guna melakukan transisi energi, harga komoditas batu bara tetap solid. Hal ini dibuktikan dengan tren kenaikan Harga Batubara Acuan (HBA) yang terjadi pada beberapa bulan terakhir ini sampai pada bulan September 2021 menembus angka yang mencetak sejarah di USD 150/Ton. Hal ini dijelaskan oleh Wakil Ketua Umum APBI-ICMA, Hendri Tan, pada sambutannya dalam acara webinar kerjasama yang digelar bersama pakar industri dari Argus Media Singapore pada Kamis (09/09).

Senada dengan Hendri, Andrew Jones selaku Editor-Solid Fuels, Asia-Pacific, Argus menambahkan bahwa kebijakan pemerintah Tiongkok selaku negara eksportir dan importir batubara terbesar terus memainkan peran utama di pasar batubara global. Larangan Tiongkok terhadap impor batubara Australia juga merupakan kunci utama dalam kenaikan HBA yang signifikan.

“Meskipun cenderung mendapat tekanan dari isu global yang seperti disampaikan oleh Pak Hendri barusan (terkait transisi energi), tidak dapat dipungkiri bahwa batubara masih menjadi energi yang paling terjangkau,” ujar Andrew.  “Pasar batubara di kawasan Asia Pasifik tetap kuat didukung dengan kenaikan permintaan negara-negara konsumen seperti Jepang dan Korea Selatan,” sambung Andrew.

Dalam merespon fenomena tersebut, pemerintah Indonesia tidak langsung bereforia dalam menentukan langkah-langkah kebijakan bagi industri emas hitam ini. Hal ini dikarenakan masih banyak isu dan tantangan global yang perlu dicermati dan dilaksanakan oleh pelaku usaha dalam negeri. Salah satu isu terhangat saat ini adalah terkait transisi energi dan dekarbonasisasi yang semakin berkembang dan membuat pemangku kebijakan di negara-negara eksportir maupun importir mulai membuat peta jalan transisinya.

Namun demikian, kompleksitas energi dan komoditas yang sedang berlangsung saat ini dinilai masih memiliki celah yang dapat dikembangkan oleh industri bahan bakar fosil, tak terkecuali di Indonesia.

Dr. Neil Souza, Principal-Projects and Consulting, pakar Argus sekaligus narasumber berikutnya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang yang baik dalam berpartispasi dan kontribusi pada transisi energi dengan tetap memanfaatkan komoditas batubara yang dimiliki. Sebagaimana diketahui, sejumlah upaya seperti menurunkan harga pasar untuk energi baru terbarukan (EBT), mengurangi jejak karbon melalui elektrifikasi, telah dilakukan berbagai negara guna berlomba mencapai carbon neutrality pada tahun 2050.

“Namun demikian, masih terdapat banyak tantangan dalam pelaksanaannya sehingga belum betul-betul efektif untuk mencapai tujuan utamanya yaitu dekarbonisasi atau mengurangi emisi karbon,” ujar Dr. Neil. Pada paparannya, Dr. Neil meyakinkan bahwa proses perubahan batubara menjadi hidrogen bisa lebih difokuskan, karena secara ilmiah dapat mejadi katalis percepatan proses transisi energi dan akan memainkan peran signifikan pada 2050 nanti. “Hidrogen adalah molekul serbaguna yang dapat bermanfaat bagi banyak industri, seperti pembangkit listrik dan transportasi, sektor yang saat ini masih kurang ditegaskan.” sambung Dr. Neil.

Melihat ekspektasi permintaan untuk hidrogen di tahun yang akan datang, Dr. Neil berpendapat bahwa pemenuhannya nanti akan sulit jika ditempuh oleh rute "peta hijau" atau elektrolisis saja. Oleh karenanya, diperlukan peran komoditas lain dalam hal ini batubara yang dapat memproduksi hidrogen tersebut.

Related Regular News: