Harga Gas Ambrol 7%, Batu Bara Ikut Longsor!

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20211019072056-17-284855/harga-gas-ambrol-7-batu-bara-ikut-longsor

 

Harga batu bara anjlok pada perdagangan kemarin. Koreksi harga si batu hitam terjadi seiring penurunan harga gas alam.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 235/ton. Ambles 2,63% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Kejatuhan harga batu bara mengikuti harga gas alam. Kemarin, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) rontok 7,78%.

Maklum, harga dua komoditas ini sudah melonjak gila-gilaan. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga batu bara dan gas alam masing-masing meroket 195,65% dan 96,73%.

"Dengan kenaikan harga yang sudah sangat tajam, ada risiko harga gas alam akan mengalami pembalikan. Ini akan menjadi bearish factor bagi batu bara," sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv, dalam risetnya.

Harga batu bara dan gas alam memang saling terkait. Lesatan harga batu bara tahun ini disebabkan oleh lonjakan harga gas alam. Saat harga gas alam makin mahal, perburuan terhadap sumber energi alternatif menjadi semarak. Salah satu yang dicari adalah batu bara.

Untuk pembangkitan listrik, biaya penggunaan batu bara memang lebih murah ketimbang gas alam. Di Eropa, harga pembangkitan listrik dengan gas alam pada 12 Oktober 2021 adalah EUR 83,25/MWh, sementara dengan batu bara hanya EUR 54,76/MWh.

Apalagi permintaan listrik akan tinggi karena bumi belahan utara (northern hemisphere) dan sejumlah negara Asia akan memasuki musim dingin. Kebutuhan terhadap penghangat ruangan meningkat yang otomatis meningkatkan permintaan listrik.

"Stok batu bara yang menipis akan membuat impor meningkat, untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan pada musim dingin," lanjut Hassall.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: