Sebulan Naik Hampir 30%, Batu Bara Masih Kuat Nanjak?

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220425055141-17-334382/sebulan-naik-hampir-30-batu-bara-masih-kuat-nanjak

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga baru bara pada pekan ini diperkirakan tidak akan melambung setinggi minggu lalu. Namun, harga si batu hitam diramal masih betah bergerak di level US$ 300 per ton.

 

Pekan lalu, harga batu bara meroket setelah kekhawatiran kurangnya pasokan menimbulkan panic buying. Harga batu bara acuan Newcastle (Australia) kontrak Mei memang ditutup melemah 2,3% pada perdagangan Jumat (22/4/2022) di US$ 349,75 per ton.

 

Namun, secara keseluruhan, dalam sepekan harga batu bara menguat 9,26% point to point. Dalam sebulan, harga baru bara hitam sudah melambung 29,56% sementara dalam setahun melesat 308,8%

 

Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi memperkirakan pergerakan harga batu bara pada pekan ini tidak akan sekencang pekan lalu. "Kami melihat ada kemungkinan rally harga batubara masih bisa berlanjut ke depan seiring dengan berkembangnya sanksi yang diterapkan ke Rusia. Tapi di satu sisi, data produksi China dan India menunjukkan peningkatan," tutur Zuhdi kepada CNBC Indonesia.

 

Peningkatan produksi batu bara di China dan India, menurutnya, akan membuat kedua negara mengurangi impor sehingga pasokan global sedikit longgar. Sebagai catatan, produksi batu bara China mencapai 1,08 miliar ton pada kuartal I-2022, meningkat 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor batu bara China pada kuartal I-2022 mencapai 51,81 juta ton, turun 24,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

India memproduksi 777,2 juta ton batu bara untuk tahun fiskal 2021/2022 yang berakhir Maret. Produksi tersebut naik 8,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor batu bara India selama periode April 2021-Januari 2022 anjlok 16,4% ke 173,2 juta ton.

 

Sedikit longgarnya pasokan inilah yang membuat harga batu bara kemungkinan tidak 'sepanas' pekan lalu di mana harga terus melambung dari US$ 320 per ton pada Selasa (19/4/2022) menjadi US$ 357,85 per ton pada Kamis (21/4/2022). Keputusan China untuk mengurangi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan mengembangkan energi hijau juga menjadi faktor sedikit ademnya harga batu bara pada pekan ini.

 

China telah memutuskan untuk menghentikan pembiayaan bagi 15 proyek PLTU batu bara di luar negeri dengan total kapasitas mencapai 12,8 gigawatt (GW). Dilansir dari Asia Times, komitmen China untuk beralih ke energi hijau diperkirakan akan memangkas impor batu bara termal dari 210 juta ton di tahun di tahun 2019 menjadi 155 juta ton di tahun 2025.

 

"Kami lihat sentimen negatif dan positif sama-sama kuat. Untuk seminggu ke depan menurut kami akan sedikit bearish ke level US$ 300 bawah. Masih US$ 300, tetapi we should expect around US$ 310-320 per ton," imbuh Zuhdi.

 

Salah satu faktor yang membuat harga batu bara masih bertahan di level US$ 300 adalah banyaknya negara yang mencari pemasok baru untuk menggantikan posisi Rusia. Negara-negara Uni Eropa kini mengincar Indonesia, Afrika Selatan, hingga Australia setelah mengeluarkan kebijakan larangan impor batu bara dari Rusia.

 

Merujuk Data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2020 perdagangan global batu bara termal mencapai 978 juta ton. Indonesia adalah eksportir terbesar untuk termal batu bara dengan kontribusi hingga 40%. Australia ada di posisi kedua dengan porsi 20%, disusul kemudian dengan Rusia (18%), Afrika Selatan (8%), Kolombia (5%), dan Amerika Serikat (2,5%).

 

Sumber CNBC Indonesia di industri batu bara menyebut, sejumlah konsumen batu bara asal Eropa telah berbondong-bondong meminta pengiriman batu bara dari Indonesia. Bahkan, permintaan bukan hanya dari perusahaan, melainkan juga atas nama pemerintahnya.

 

"Mereka bahkan rela membeli di harga berapapun, yang penting pasokannya ada," ungkap sumber CNBC Indonesia yang enggan disebutkan namanya, belum lama ini.

 

Menurutnya, ini terjadi karena para pembeli batu bara Eropa ini lebih mengutamakan ketersediaan pasokan dan keamanan energi untuk negaranya terlebih dahulu.

"Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini sebelumnya di industri batu bara ini. Ini panic buying!" ungkapnya.

 

Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia. Hendra mengatakan, saat ini sejumlah negara Eropa tengah melirik batu bara Indonesia.

 

Beberapa negara di Eropa yang tengah melakukan penjajakan pembelian batu bara Indonesia di antaranya Italia, Jerman, dan Polandia. Namun sayang, dia tidak mengetahui secara pasti besaran kuota batu bara yang dijajaki, mengingat hal tersebut bagian dari business to business perusahaan.

Related Regular News: