TRANSISI ENERGI TERBARUKAN INDONESIA, PRIORITAS NASIONAL, KAWASAN DAN GLOBAL

Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (PSKK Aspasaf - BSKLN), Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri Angkatan ke-70 melaksanakan Multistakeholder Strategic Dialog bertema Indonesia’s Energy Future: Entering the Era of Renewables in Asia Pacific, yang diselenggarakan pada  Senin, 23 Mei 2022 secara hybrid.

APBI yang diwakili Direktur Eksekutif Hendra Sinadia turut berpartisipasi dalam acara yang dihadiri lebih dari 200 orang peserta, umumnya para diplomat RI di berbagai KBRI dan juga perwakilan kedutaan besar negara-negara sahabat di Jakarta. Acara diacarakan dengan semangat mendukung transisi energi dimana Indonesia menjadi isu tersebut salah satu isu prioritas dalam presidensi G20. Bagi Indonesia pergeseran (shifting) dari energi berbasis fosil terutama batubara ke energi terbarukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi keberlanjutan (sustainability) dan sekaligus mengurangi biaya subsidi energi serta memperkuat ketahanan energi.

Dalam acara tersebut Direktur Eksekutif APBI berperan sebagai penanggap (respondent) dari terkait isu masa depan energi di Asia Tenggara. APBI sangat memahami kebijakan pemerintah dalam mendorong energi terbarukan. Bahkan beberapa perusahaan anggota APBI telah berinvestasi di eko sistem industri kendaraan bermotor listrik (electric vehicle) untuk mendukung produksi bahan baku untuk energi bersih. APBI juga melihat peningkatan trend penggunaan teknologi energi terbarukan, dalam hal ini solar PV, di daerah konsesi tambang. Hal ini positif dalam mempercepat peningkatan pemanfaatan energi terbarukan.

Untuk mengurangi jejak karbon (carbon footprint) anggota APBI juga melakukan banyak kegiatan praktis, seperti antara lain menggunakan biofuel (B30) seperti yang diwajibkan oleh Pemerintah, penggunaan teknologi digitalisasi untuk mengefisienkan kegiatan operasional di lapangan, dll. Selain itu percepatan reklamasi dan rehabilitasi di area bekas tambang dan di daerah aliran sungai juga menjadi prioritas. Sebagaimana diketahui, Forestry and Other Land Use (FOLU) merupakan salah satu penyumpang emisi terbesar. Pengolahan batubara menjadi gas (gasifikasi) juga merupakan salah satu cara kontribusi industri dalam mendukung percepatan target net zero emission.

Related Regular News: