APBI EXECUTIVECONNECT - PELUANG INVESTASI DI ERA DEKARBONISASI

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) mengadakan ExecutiveConnect bertema Peluang Investasi di Era Dekarbonisasi yang dilaksanakan secara offline di Ritz Carlton Mega Kuningan (6/6).

Acara tersebut merupakan sebuah forum diskusi kalangan pengusaha bidang pertambangan, pemerintah, serta stakeholder terkait menjajaki peluang investasi serta membahas tantangan dalam mendukung pembangunan rendah karbon.

Sesuai pula dengan tema besar dunia maupun nasional tentang upaya bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pembangunan berkelanjutan, acara ini dibagi dalam dua topik besar yakni Respon Pelaku Usaha terhadap  Peluang Investasi Pengembangan Energi Bersih dan pada sesi kedua membahas tentang Peran Penting Reklamasi dan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam Mendukung Penurunan Jejak Karbon.

Diskusi ini juga selaras dengan target pemerintah dalam upaya penurunan karbon. Oleh karena itu, dukungan dari dunia usaha sangat dibutuhkan. “Saat ini Pemerintah sedang mendorong pengembangan proyek-proyek hilirisasi batubara untuk melakukan substitusi bahan bakar karbon dalam hal ini minyak dan gas dan bahan baku industri kimia seperti methanol dan DME” ujar Prof. Irwandy Arif selaku Staf Khusus Menteri ESDM dalam sambutannya. Sebagai bukti nyata Pemerintah dalam mendukung hilirisasi batubara dalam bentuk insentif fiscal seperti royalti batubara khusus untuk proyek gasifikasi menjadi 0%, pemberian holiday dan tax deductible, dll.

Sementara itu, Septian Hario Seto selaku Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kemenko Maritim dan Investasi menyampaikan roadmap hingga tahun 2060 dengan target penurunan karbon yang akan direduksi hingga 1.526 juta ton CO2. Ia berharap sampai dengan tahun 2060 sudah banyak perusahaan batubara yang melakukan beragam diversifikasi bisnis untuk menciptakan energi yang lebih bersih dan melihat peluang investasi pembangunan berbasis hijau yang sangat besar.

APBI-ICMA sendiri mendukung seluruh anggota dalam misi transisi energi sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi emisi sesuai target Pemerintah. Ketua Umum APBI Pandu Sjahrir menjelaskan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi pada proyek-proyek di sektor Energi terbarukan. Namun, tentunya harus pula diperhitungkan realoikasi capital yang dipindahkan ke sektor EBT. Capex rupiah yang dikeluarkan sedianya juga harus menjadi insentif, seperti di-offset ke pajak.

Proyek-proyek energi terbarukan saat ini sudah dilakukan sejumlah anggota APBI maupun para panelis yang hadir. PT. Indika Energy Tbk., PT. Harum Energy Tbk, PT. TBS Energi Utama Tbk. PT. Bumi Resources Tbk., maupun PT. Shell Indonesia. Namun tentunya proyek-proyek EBT harus juga masuk akal dari sisi finansial.

Menurut Azis Armand, Vice President Director & Group CEO PT. Indika Energy Tbk. proyek dekarbonisasi harus lebih visible dalam mengurangi karbon dengan tentunya selaras dengan kebijakan pemerintah. Selain itu perusahaan juga dapat menggunakan teknologi dalam mengurangi karbon untuk produksi sehari-hari.

Hal senada juga disampaikan Adika Nuraga Bakrie (Aga) selaku President Direktur PT. Bumi Resources Tbk. yang memiliki strategi batubara dan beyond batubara. Digitalisasi dengan data analitik dari pemakaian bahan bakar dimana dengan output karbon yang dihasilkan menjadi salah satu langkah yang diambil. Aga yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum APBI Bidang Hilirisasi memandang saat ini adalah saat yang tepat dalam mengembangkan modal untuk diversifikasi bisnis.

Dalam hal ini, perusahaan yang dipimpinnya, berfokus pada hilirisasi batubara menjadi methanol sebagai end productnya. Methanol ini bertujuan untuk mendukung program Pemerintah dalam menyukseskan penggunaan B20 dan juga B30. Selain dalam bisnis batubara, Aga juga mengatakan bahwa salah satu perusahaan mineralnya memfokuskan untuk memprodukai tembaga, dimana tembaga ini memiliki peluang yang krusial untuk kebutuhan electric vehicle.

Tentunya dalam penurunan jejak karbon ini masih memiliki banyak tantangan, Ray Antonio Gunara selaku Presiden Direktur PT Harum Energy Tbk. berpendapat bahwa dari segi oprasional memang banyak sekali tantangan untuk melakukan transisi energi. Namun, Ray mengungkapkan pada Harum Energy sendiri bukan hanya invetsasi di pembangkit energi listrik yang lebih bersih tapi juga kami berinvestasi di ekosistem yang lebih menunjang baik itu di industry hulu seperti penunjang industry nikel maupun di industri hilirnya seperti di kendaraan listrik. Namun tidak dipungkiri saat ini Harum Energy masih menjalankan bisnisnya di industri hulu yaitu di industri nikel maupun mix stream di industri pengolahan nikel dan kedepannya Harum Energy Tbk. akan terus mengembangkan industrinya demi untuk meningkatkan nilai tambah.

Sedangkan Andri Pratiwa selaku Direktur Lubricants Shell Indonesia, menyatakan bahwa semenjak tahun 2010 Shell merubah arah bisnis mereka menjadi perusahaan berbasis energi, dan sampai saat ini shell telah mengembangkan beberapa bisnis mereka di solar cell, hydrogen, lalu di bisnis carbon capture dan juga strategi carbon pricing. Namun, dalam koneksinya dengan pertambangan sendiri, shell telah mengembangkan oil lubricants mereka dengan teknologi yang lebih baik dimana dapat lebih efisiensi lagi bisa digunakan oleh alat-alat berat di pertambangan dan itu sendiri bisa sedikit membantu mengurangi jejak karbon di pertambangan.

Dengan demikian para pelaku usaha ini mengharapkan dukungan penuh dari Pemerintah dalam bentuk insentif, dan untuk investasi sendiri akan menjadi tantangan karena masih banyak pertimbangan dari perbankan untuk mendanai proses transisi energi, karena meskipun memiliki tagline coal down streaming namun tetap saja industri hulunya ialah batubara.

 

Potensi Multi Usaha Kehutanan

Dalam sesi kedua yang mengupas tuntas terkait peran penting reklamasi dan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) dalam mendukung penurunan jejak karbon dalam acara ini juga dipaparkan beragam upaya yang dilakukan perusahaan tambang khususnya anggota APBI-ICMA dalam upaya merehabilitasi lahan bekas tambang.

Sunindyo Suryo Herdadi selaku Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba memberikan gambaran bahwa upaya yang dilakukan perusahaan tambang berupa peningkatan nilai reklamasi dapat berpengaruh besar dalam target penurunan emisi pada 2050 serta pelaksanaan reklamasi progresif tetap dilakukan peluang peningkatan penerimaan negara, perusahaan juga harus meningkatkan capaian reklamasi apabila melakukan kenaikan produksi yang akan membuka lahan lebih luas.

Sejalan dengam apa yang diutarakan Sunindyo, para pelaku usaha meresponi dengan positif. Priyadi selaku Direktur Utama PT. Adaro Indonesia, Ignatius Wurwanto selaku Ketua Umum FRHLBT, dan Suhedi selaku Direktur Operasional PT. Bukit Asam Tbk. para pelaku usaha siap untuk melakukan reklamasi tambang dan juga siap untuk melakukan rehabilitasi DAS, dan terbukti dengan program Bukit Menoreh yang melibatkan beberapa perusahaan anggota APBI-ICMA. Harapannya keterlibatan masyarakat agar lebih aktif dalam proses reklamasi dan rehabilitasi DAS ini.

Reklamasi sejauh ini telah dilakukan oleh para pelaku usaha, harapannya reklamasi ini dapat dinilai sebagai upaya pengurangan jejak karbon. Selain itu pula, reklamasi tidak dilakukan semata-mata sebagai kewajiban pascatambang. Namun juga perlu diperhatikan langkah-langkah yang perlu dilakukan setelah lahan dikembalikan ke pemerintah. Kiranya perlu juga penyiapan kajian terkait pengembangan multi usaha.

Para peserta yang hadir berharap acara-acara seperti ini semakin sering diadakan untuk menyamakan persepsi antara Pemerintah, pelaku usaha, dan stakeholder terkait mengenai langkah bersama dalam mengurangi jejak karbon untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Kolaborasi antar pemangku kepentingan secara konstruksi sangat diperlukan untuk menuju Indonesia yang lebih baik, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum APBI-ICMA Pandu Sjahrir.

Related Regular News: