Naik Hampir 4%, Harga Batu Bara Kembali Tembus US$ 400/Ton!

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220708055202-17-353882/naik-hampir-4-harga-batu-bara-kembali-tembus-us--400-ton

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat dan kembali menembus level US$ 400 per ton. Pada perdagangan Kamis (7/7/2022), harga batu kontrak Agustus di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 412,6 per ton. Melonjak 3,93% dibandingkan hari sebelumnya.

 

Lonjakan harga kemarin membawa kembali harga batu bara ke level psikologis US$ 400 untuk pertama kalinya sejak 23 Mei 2022. Harga tersebut juga mendekatkan batu hitam ke rekor tertingginya dalam sejarah yang terjadi pada 2 Maret 2022 yakni US$ 446 per ton.

 

Secara keseluruhan, harga batu bara melesat 11,83% dalam sepekan secara point to point. Dalam sebulan, harga batu bara melonjak 11,82% sementara dalam setahun melesat 216,78%.

 

Sepanjang tahun ini, harga batu bara sudah sembilan kali melewati titik psikologis US$ 400 yang terbagi dalam tiga periode yakni awal Maret, akhir Mei, dan kemarin. Kenaikan dalam tiga periode tersebut didorong oleh faktor yang berbeda.

 

Pada awal Maret, harga batu bara terbang setelah perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari 2022. Perang memicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dan lalu lintas logistik. Terlebih, status Rusia adalah salah satu pemasok besar batu bara di dunia.

 

Pada akhir Mei 2022, harga batu bara kembali melesat karena krisis listrik di India serta keputusan Uni Eropa untuk melarang impor batu bara Rusia. Gelombang panas membuat permintaan listrik di India melonjak sehingga permintaan akan batu bara melesat.

 

Harga batu bara kembali terbang pada awal Juli sebagai dampak dari keputusan Rusia untuk memangkas pasokan gas ke Eropa. Keputusan tersebut membuat harga gas melesat sehingga negara-negara Eropa kembali menghidupkan pembangkit listrik batu bara mereka.

 

Lonjakan harga batu bara pada perdagangan kemarin juga masih masih dipicu oleh melesatnya harga gas alam Eropa. Faktor lainnya adalah gangguan cuaca di Australia yang merupakan eksportir terbesar untuk batu bara metalurgi dan terbesar kedua untuk batu bara termal.

 

Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) yang menjadi patokan Eropa menyentuh EUR 183 per megawatt-jam kemarin, rekor tertinggi sejak Maret 2022. Harga tersebut melonjak 131% dalam sebulan dan 450% dalam setahun.

 

Lonjakan harga gas disebabkan kekhawatiran jika perbaikan pada saluran gas Nord Stream tidak bisa selesai sesuai jadwal yakni 11-21 Juli 2022. Seperti diketahui, Rusia akan menutup sementara pipa Nord Stream 1 untuk pemeliharaan tahunan. Kegiatan pemeliharaan musim panas, yang berada di bawah Laut Baltik dari Rusia ke Jerman, dijadwalkan berlangsung dari 11 Juli hingga 21 Juli.

 

Namun banyak pihak khawatir Kremlin menggunakan kegiatan pemeliharaan terencana untuk mematikan keran infrastruktur impor gas terbesar Uni Eropa (UE) selamanya.

 

Jika perawatan tersebut tidak selesai tepat waktu, harga gas diperkirakan bisa menembus EUR 250. Lonjakan harga akan merembes ke harga batu bara mengingat batu hitam adalah sumber energi alternatif.

 

"Jika perawatan Nord Stream tidak selesai pada 21 Juli, akan ada kehilangan pasokan hingga 67mcmc/hari. Saya kira ini tidak akan mampu hanya ditutupi oleh batu bara semata," tutur Klaas Dozeman dari Brainchild Commodity Intelligence, seperti dikutip dari Montel News.

 

Gangguan cuaca serta banjir di Australia juga menjadi pendorong kenaikan harga. Banjir memaksa Australian Rail Track Corporation menutup jaringan kereta Hunter Valley di New South Wales pada Selasa malam waktu.

 

Penutupan jaringan rel kereta membatasi lalu lintas pengiriman batu bara menuju Pelabuhan Newcastle. Padahal, pelabuhan tersebut adalah hub ekspor batu bara terbesar di dunia.

 

"Banjir berdampak kepada jaringan rel kereta ARTC sehingga pengiriman batu bara tidak bisa dilakukan dari Selasa. Namun, kami berharap layanan ini bisa kembali berjalan secepatnya," tutur juru bicara Port Waratah Coal Services di pelabuhan Newcastle seperti dikutip dari Montel News.


 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

Related Regular News: