PENDALAMAN PEMBAHASAN KAJIAN PILOT PROJECT BIOMASSA

Sebagai tindak lanjut dari pengembangan proyek biomassa, Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marvest) Republik Indonesia kembali mengkaji lebih dalam terkait penerapan co-firing biomassa dengan menyelenggarakan Pengumpulan Informasi dan Data mengenai Kajian Pilot Project Biomassa yang dilaksanakan secara luring di Whiz Prime Hotel, Bogor dan daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (14/7).

Dalam proyek kajian tersebut, terdapat dua perwakilan yang berasal dari Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) dan Forum Reklamasi Hutan pada Lahan Bekas Tambang (FRHLBT) yang telah menjalankan proyek biomassa yang salah satunya adalah PT. Indominco Mandiri (IMM).

Menghadiri undangan Kemenko Marvest, Direktur Sustainability and Risk Management PT. Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM) yang sekaligus juga Ketua Forum Reklamasi Hutan pada Lahan Bekas Tambang (FRHLBT), Ignatius Wurwanto memaparkan perkembangan yang telah dilakukan ITM melalui 5 anak usaha yang dimilikinya.

Menurutnya, pilot project PT. IMM yang juga sudah disetujui oleh pemerintah merupakan hal yang relevan mengingat konteks dari pilot project tersebut adalah biomassa yang dimana PT.  IMM beroperasi di wilayah Kalimantan Timur dimana sebagian merupakan hutan lindung dengan area konsesi seluas 24.121 hektar. Sementara wilayah yang sudah dilakukan kegiatan tambang seluas 11.180 hektar serta cakupan wilayah reklamasi dan revegetasi mencapai 9.000 hektar.

Saat ini, PT. IMM juga membangun satu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di daerah pelabuhan PT. IMM menggunakan batubara produksi sendiri sebagai pembangkit listrik. Sebagai upaya untuk mengurangi gas rumah kaca juga langkah penerapan co-firing biomassa di PLTU yang telah dibangun, pihaknya menggunakan kayu sebagai bahan baku campuran batubara untuk pembangkit listrik.

Percobaan kebutuhan PLTU untuk campuran biomassa yang dilakukan di PLTU PT. IMM menggunakan kayu sengon buto 1-2% woodchips dengan rincian mencapai 1,4 ton/hari dan 42 ton/bulan.

Saat ini sudah ada 1,5 juta tanaman sengon yang sudah ditanam di areal reklamasi milik perusahaan tersebut. Sengon banyak ditanam karena merupakan tanaman cepat tumbuh dan dijadikan sebagai tanaman penaung untuk tanaman lokal. Hampir sebagian besar naungan reklamasi didominasi oleh sengon buto. Sampai Juni 2022, PT. IMM sudah menanam sengon buto di lahan sekitar 8945,18 hektar. Dari hasil inventarisasi tanaman secara general, diperoleh rata-rata diameter tanaman usia 10 tahun ke atas berkisar antara 30-50 cm.

Dengan upaya-upaya yang dilakukan, Ketua FRHLBT ini juga berharap agar payung hukum dan atau regulasi terkait upaya-upaya tersebut sedianya berjalan beriringan.

Pemerintah terus mengawal pemanfaatan biomassa sebagai alternatif bahan bakar fosil. Sejak tahun 2021, APBI dan FRHLBT menjadi mitra pemerintah untuk pilot project pengembangan biomass tersebut.

Related Regular News: