Melesat Hampir 3%, Harga Batu Bara Dekati Rekor Tertinggi

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220818061725-17-364567/melesat-hampir-3-harga-batu-bara-dekati-rekor-tertinggi

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus melambung. Pada perdagangan Rabu (17/8/2022), harga batu kontrak September di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 436,9 per ton. Melesat 2,72% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 12 Juli 2022 atau lebih dari sebulan terakhir. Penguatan kemarin memperpanjang tren positif batu bara yang sudah berlangsung dalam dua pekan.

Sejak 8 Agustus, harga batu bara terus menguat dan hanya sekali jatuh pada Kamis pekan lalu. Penguatan kemarin juga mendekatkan pasir hitam ke level tertingginya di US$ 446 per ton yang tercipta pada 2 Maret 2022.

Secara keseluruhan, harga batu bara sudah melonjak 8,9% dalam sepekan secara point to point. Dalam sebulan, harga batu bara melesat 24,8% sementara dalam setahun terbang 163,5%.

Penguatan batu bara masih ditopang oleh meroketnya harga gas dan persoalan pasokan energi di Jerman. Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) kemarin melambung ke EUR 225,8 per megawatt-jam. Harga gas alam mendekati rekor tertingginya pada awal Maret 2022 yang tercatat 300 euro.

Melambungnya harga gas masih dipicu oleh ketidakjelasan pasokan setelah perusahaan gas Rusia Gazprom memangkas aliran mereka ke Eropa. Kenaikan harga gas berdampak langsung ke harga batu bara mengingat komoditas tersebut adalah sumber energi alternatif bagi gas.

Persoalan diperparah oleh kebijakan Uni Eropa yang melarang impor batu bara dari Rusia.

Situasi paling parah terjadi di Jerman. Negeri Panser tengah berpacu mengisi pasokan gas dan batu bara pada pembangkit listrik mereka untuk musim dingin. Namun, permukaan sungai Rhina yang kian menipis membuat lalu lintas pengiriman terhambat.

Dilansir dari Euronews, energi fosil kini menjadi komoditas langka di ibu kota Berlin. Sekitar 5.000-6.000 rumah tangga di Berlin masih mengandalkan batu bara untuk menghangatkan rumah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk usia lanjut yang enggan merenovasi rumah dan sistem pemanasan rumah mereka.

Namun, jumlah pengguna batu bara dari kelompok pengguna rumah tangga kini bertambah karena mahalnya harga gas. Naiknya permintaan inilah yang kemudian meningkatkan kekhawatiran jika pasokan tidak akan cukup.

"Untuk kali pertama dalam bertahun-tahun, saya kembali membeli batu bara. Batu bara memang buruk kesehatan tetapi itu lebih baik daripada kami kedinginan," tutur Frithjof Engelke, kepada Euronews.

Permintaan tinggi juga akan datang dari Vietnam karena mereka akan meningkatkan impor batu bara dalam 12-15 tahun ke depan. Vietnam berencana mengimpor batu bara sebanyak 50-83 juta ton per tahun pada periode 2025-2035.

Kenaikan impor untuk memenuhi permintaan sejalan dengan meningkatnya perekonomian Vietnam Volume tersebut jauh di atas impor mereka pada 2021 yang tercatat 36,4 juta ton.

 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: