CLICK HERE TO READ THE ARTICLE

REFLEKSI 33 TAHUN APBI-ICMA: PELUANG & TANTANGAN DI ERA TRANSISI ENERGI

Oleh: Hendra Sinadia (Direktur Eksekutif APBI-ICMA)

 

20 September 2022 ditengah keramaian acara Coaltrans Asia (CTA) di The Westin Nusa Dua Bali, staf sekretariat APBI-ICMA mengadakan perayaan kecil hari ulang tahun APBI-ICMA yang ke-33. Hari istimewa tersebut tidak dirayakan secara khusus mengingat kesibukan dari tim APBI-ICMA yang turut menangani CTA yang tahun ini adalah penyelenggaraan ke-27 dan dihadiri lebih dari 1100 peserta dari lebih 30 negara. Meski ulang tahun APBI-ICMA tidak dirayakan secara khusus namun suasana dari acara CTA dimana optimisme, antusiasme peserta, dukungan dari Pemerintah dan apresiasi dari segenap stakeholders terhadap APBI-ICMA punya makna mendalam. Usia yang ke-33 memberikan tantangan yang besar bagi asosiasi yang menaungi ekosistem industri perbatubaraan nasional di tengah era transisi energi.

Usia yang ke-33 kurang lebih menandai masa waktu peran perusahaan swasta dalam sektor industri perbatubaraan di tanah air. Sejarah batubara Indonesia terbilang cukup panjang sejak jaman colonial Belanda di era tahun 1849. Adapun perusahaan BUMN PT Bukit Asam Tbk itu didirikan sejak 52 tahun lalu. Perusahaan swasta, dalam hal ini pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi-1 awalnya mulai beroperasi 34 tahun lalu. Sehingga usia 33 tahun bisa dikatakan sebagai awal partisipasinya perusahaan swasta dalam mengembangkan industri batubara nasional. Usia 33 tahun relatif muda. Bahkan eksploitasi secara besar, dalam hal ini level produksi di atas 200 juta baru di 20 tahun terakhir ini. Hal tersebut tidak bisa dibandingkan pemanfaatan batubara di negara-negara maju seperti misalnya di Inggris, Amerika Serikat yang sudah lebih dari 100 tahun.

Di usia yang ke-33 tahun, APBI sebagai mitra pemerintah dan juga sebagai “voice of Indonesian coal abroad” semakin berkembang baik dari segi keanggotaan dan juga cakupan aktifitas. Sebagai mitra Pemerintah, APBI secara aktif berkontribusi terhadap input dan pemikiran yang konstruktif terhadap regulasi dan kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah baik ditingkat pusat maupun daerah. Tidak bisa dipungkiri perbedaan pandangan atau perspektif antara pelaku usaha dan Pemerintah itu sering terjadi. APBI yang mewakili para anggota (baik anggota utama ataupun pendamping) menyuarakan perspektif industri yang diselaraskan dengan tujuan prioritas pembangunan nasional.

Di usia yang ke-33 tahun dirayakan di tengah kondisi harga komoditas yang sedang menguat. Lonjakan harga yang fantatis tentu saja menjadi berkah bagi perusahaan anggota setelah mengalami masa-masa sulit di awal Pandemi Covid-19. Harga komoditas yang menguat juga menjadi berkah bagi negara dalam pemulihan ekonomi pasca Pandemi. Lonjakan harga juga berdampak positif bagi profitabilitas perusahaan yang sangat penting dalam menghadapi era transisi energi dimana pendanaan terhadap industri berbasis komoditas batubara semakin sulit. Meski pendanaan semakin sulit diperoleh, namun fakta menunjukkan produksi batubara nasional dan ekspor batubara RI setiap tahun menunjukkan peningkatan, kecuali di tahun 2020.

Di usia yang ke-33 tahun, APBI memasuki era yang menantang dimana transisi energi menuju energi bersih tidak dapat dielakkan. Tekanan dunia internasional dalam upaya mengurangi penggunaan batubara sebagai sumber energi semakin intens. Ketaatan terhadap kesepakatan pengurangan emisi dalam kerangka Perjanjian Paris juga menjadi suatu hal yang wajib dimana Pemerintah RI sebagai salah satu negara yang ikut dalam kesepakatan tersebut. Komitmen untuk mengurangi penggunaan batubara sudah terefleksi dalam regulasi dan kebijakan Pemerintah termasuk didalam Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2022. Selain itu, komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sudah disampaikan dalam revisi Nationally Determined Contribution (NDC).

Era transisi energi juga memberikan peluang bagi perusahaan pertambangan batubara untuk menjajaki investasi di sektor energi bersih. Memasuki era transisi energi, anggota-anggota APBI juga menunjukkan komitmen nyata dalam bertransformasi. Investasi beberapa perusahaan anggota APBI untuk menghasilkan energi bersih, seperti pembangunan smelter nikel guna mendukung eko sistem kendaraan listrik (EV), pembangunan hydro power, solar panel, gasifikasi menjadi contoh konkrit transformasi beberapa perusahaan dalam mendukung dekarbonisasi.

Tantangan yang dihadapi selain transisi energi adalah dinamika geopolitik yang sangat dinamis. Disatu sisi, konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina mendorong penguatan harga. Namun konflik tersebut juga yang memicu pelemahan ekonomi global termasuk meningkatnya inflasi di banyak negara. Selain itu hambatan logistic juga menjadi salah satu tantangan. Oleh karena itu, dinamika geopolitik perlu dicermati dan diantisipasi. APBI mengapresiasi langkah dan kebijakan Pemerintah dalam terus mengedepankan azas politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Peran Indonesia di era global juga semakin penting khususnya disaat kita menjadi Presidensi G-20 yang KTT nya akan dilaksanakan di Bali bulan November. Setelah G-20 Indonesia akan memulai periode ketua ASEAN yang juga tidak kalah pentingnya mengingat Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Peran penting Indonesia sebagai eksportir batubara termal terbesar didunia tentu menjadi salah satu keunggulan RI dalam perdagangan global.

Selamat ulang tahun APBI-ICMA ke-33. Semoga semakin maju dan terus berkembang menjadi mitra penting pemerintah dan segenap pemangku kepentingan terkait dengan sektor energi dan pertambangan nasional.

---000---

Related Regular News: